Harga bitcoin berhasil kembali ke level $90.000 didukung oleh pembelian besar dari Strategy. Optimisme kembali muncul dengan prediksi bahwa bull market belum berakhir.
CEO Strategy, Michael Saylor, mengumumkan pembelian 10.624 Bitcoin senilai $962,7 juta. Langkah ini menambah total kepemilikan perusahaan menjadi 660.624 BTC, dengan imbal hasil tahun 2025 mencapai hampir 25%.
Michael Saylor, CEO Strategy, menuai kritik di X setelah perusahaannya mengeluarkan $27 juta untuk uang muka jet pribadi. Kritik ini muncul saat harga saham MSTR dan bitcoin sedang tertekan, membuat banyak orang mempertanyakan prioritasnya.
Artikel ini menganalisis kemungkinan dampaknya terhadap harga bitcoin jika perusahaan Strategy terpaksa menjual cadangan bitcoinnya yang besar, dengan merujuk pada pernyataan CEO dan opini para analis.
Meskipun harga bitcoin sedang tertekan, bank JPMorgan tetap mempertahankan target harga 146.000 euro. Keyakinan ini didasari pada posisi kuat perusahaan Strategy, potensi keputusan positif dari MSCI, dan model yang membandingkan bitcoin dengan emas digital.
Matt Hougan dari Bitwise membantah desas-desus bahwa Strategy terpaksa menjual Bitcoin. Dengan kas sebesar $1,4 miliar dan tanpa utang hingga 2027, perusahaan milik Michael Saylor ini memiliki posisi yang kuat.
Sentimen pasar kripto sedang negatif, tetapi ada sinyal bahwa bull market baru akan segera dimulai. Analis ini menjelaskan mengapa kekhawatiran seputar Strategy berlebihan, siklus 4 tahun sudah tidak relevan, dan likuiditas yang kembali bisa mendorong harga Bitcoin ke $100.000.
Perusahaan bitcoin terbesar di dunia, Strategy, berisiko dihapus dari Indeks MSCI. Kebijakan baru yang membatasi kepemilikan aset kripto menjadi penyebabnya, dan hal ini dapat memicu penjualan bitcoin paksa jika terjadi.
Arus masuk ke perusahaan dengan cadangan strategis kripto melambat drastis di November. Akibatnya, saham perusahaan seperti Strategy dan Metaplanet anjlok, membuat investor kehilangan modal besar.
CEO Strategy, Phong Le, menyatakan bahwa penjualan Bitcoin hanya akan dilakukan sebagai upaya terakhir dalam skenario ekstrem, seperti jika rasio mNAV perusahaan jatuh di bawah satu dan akses pembiayaan terhenti. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di pasar, terlebih dengan adanya tekanan dividen yang besar.