Pasar bitcoin terus menjadi sumber perdebatan: apakah kita masih berada dalam siklus empat tahunan klasik, atau justru menjadi bagian dari siklus ekonomi yang lebih lebar, yang dikenal sebagai business cycle? Dalam video terbarunya, Didi Taihuttu mengulas pertanyaan ini. Dengan gayanya yang khas, ia membahas perkembangan terkini seputar bank, analisis harga, dan kekuatan mindset.

Foto: youtube.com/@bitcoinfamily
Bank-bank Mulai Melangkah ke Kripto, Tetap Waspada #
Dua berita menonjol menjadi sorotan. Pertama, bank Eropa, BBVA, kini menawarkan perdagangan bitcoin melalui aplikasinya, memberikan akses pasar kripto kepada tujuh puluh juta pelanggan. Ini adalah kabar positif untuk adopsi, namun Taihuttu memberikan peringatan:
“Jika Anda membeli bitcoin melalui bank, Anda tidak menyimpannya sendiri. Tidak memiliki kunci pribadi berarti tidak memiliki kepemilikan.”
Self-custody melalui hardware wallet atau software wallet tetap menjadi hal esensial untuk kebebasan yang sesungguhnya, menurutnya. Yang tak kalah menarik, bank-bank mulai merekomendasikan bitcoin. Sebuah bank negara besar di Rusia menyarankan klien untuk menempatkan tujuh persen aset mereka di bitcoin. Sebelumnya, Bank of America juga memberikan saran serupa. Taihuttu menekankan ironinya:
“Lembaga yang sama yang dulu menolak bitcoin kini justru mempromosikannya.”
Siklus Empat Tahun atau Business Cycle yang Lebih Panjang? #
Di paruh kedua videonya, Taihuttu membahas berbagai grafik. Menurut siklus empat tahunan klasik, harga bitcoin selalu mencapai puncak sekitar tujuh belas bulan setelah halving (pengurangan separuh jumlah bitcoin baru). Halving terjadi pada tahun 2024, sehingga puncaknya pada tahun 2025 seharusnya logis.
Namun, menurut data baru, pola ini bergeser menuju business cycle lima tahunan. Artinya, puncak sebenarnya baru akan terjadi pada 2026. Berbagai indikator makroekonomi, seperti Purchasing Managers Index (PMI), menunjukkan kita masih berada dalam fase kontraksi, tanpa ekspansi yang jelas.
Taihuttu tetap berhati-hati:
“Selama kita tutup di bawah seratus ribu dolar pada Desember, saya masih melihatnya sebagai bear market dalam siklus empat tahunan.”
Namun, ia tetap menyisakan sedikit peluang untuk 2026:
“Tiga puluh persen dari saya berpikir: itu bisa terjadi.”
Mindset Lebih Penting daripada Prediksi #
Terakhir, Taihuttu menutup dengan pesan yang menginspirasi: reaksi Anda terhadap suatu peristiwa lebih penting daripada peristiwa itu sendiri. Apakah bitcoin mencapai puncaknya pada 2025 atau 2026, siapa pun yang menerapkan strategi seimbang dan dapat mengendalikan emosinya akan bertahan paling lama. Motonya:
“Jangan panik, tetapi zoom out. Tetap positif.”
Apakah ini siklus empat tahunan atau business cycle: bagi bitcoiner sejati, fokusnya tetap sama—hodl, terus belajar, dan tetap tenang di tengah badai.