
Foto: Mijansk786 / Shutterstock.com
Gedung Putih, dan secara implisit Presiden Donald Trump, telah merilis sebuah dokumen yang menguraikan agenda keamanan nasional untuk Amerika Serikat. Dokumen ini menjelaskan langkah-langkah yang akan diambil AS sendiri, serta apa yang mereka harapkan dari sekutu-sekutunya. Lalu, apa implikasi dari rencana ini bagi kripto dan imbal hasil obligasi?
Peningkatan Anggaran Pertahanan & Kebijakan Deterensi #
Dalam dokumen ini, Gedung Putih memperkenalkan agenda ‘America First’ yang menekankan pada pertahanan. Sekutu NATO diminta untuk menggelontorkan dana secara signifikan, dengan target pengeluaran sebesar lima persen dari PDB mereka untuk pertahanan. Negara sekutu dan sahabat lainnya, seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Taiwan, juga diharapkan meningkatkan belanja pertahanan.
Trump ingin negara-negara ini memiliki kapabilitas untuk mencegah ancaman dari negara lain, terutama terkait the islands di sekitar China, seperti Taiwan dan Jepang. Ia menginginkan adanya kemajuan sebelum ia kembali berbicara dengan Presiden China.
Taiwan memang telah melakukan banyak hal untuk membuat invasi menjadi sangat mahal, seperti pemasangan ranjau laut serta pembelian drone dan sistem rudal mobile. Namun, di saat yang sama, Trump justru memberlakukan kenaikan tarif sebesar dua puluh persen kepada sekutunya tersebut, yang secara tidak langsung memperlakukan teman tidak jauh berbeda dengan musuh. Tindakan ini berpotensi merusak moral militer.
Bahaya dari Rencana Ini #
Amerika Serikat juga akan menaikkan anggaran pertahanannya, dengan fokus investasi di kawasan Indo-Pasifik. Semua langkah ini diperkirakan akan meningkatkan beban utang global dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Dan ini tidak baik bagi bitcoin dan kripto. Selain itu, pengeluaran yang sangat besar semacam ini berpotensi memicu krisis keuangan—dan itu tentu saja sangat buruk bagi pasar finansial.
AS juga berkeinginan mengakhiri ’era migrasi massal’. Negeri Paman Sam tidak lagi menginginkan tenaga kerja asing murah, yang berpotensi mendorong kenaikan upah dan memicu inflasi.
Peluang bagi Kripto dan Emas #
Meskipun beberapa dampak dari kebijakan ini seharusnya berpotensi menguntungkan aset-aset lindung nilai inflasi seperti bitcoin dan emas, hingga kini kita belum melihat buktinya. Bitcoin memang berhasil mencetak rekor harga tertinggi baru tahun ini, tetapi dengan mudah jatuh kembali, bahkan setelah The Fed (bank sentral AS) menurunkan suku bunga.
Emas baru saja menyelesaikan reli yang sangat kuat, tetapi sudah bergerak sideways selama berbulan-bulan. Perbedaan antara emas dan bitcoin jelas terlihat: emas naik sekitar 60 persen tahun ini, sementara bitcoin justru turun beberapa persen.
The Fed kemungkinan akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, tetapi dengan investasi pertahanan yang masif di depan mata, peluang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut semakin menipis. Bagaimana bitcoin akan bereaksi terhadap hal ini masih sangat tidak pasti.